Raga yang sehat berawal dari Pikiran yang sehat. Olehkarenanya, Pikiran yang sehat menjadi stimulus utama untuk mempengaruhi kesehatan Jiwa dan Raga kita, begitu pula sebaliknya. Jadi, usahakan untuik selalu berpikir positif untuk meciptakan Raga yang Sehat.

Untuk itu, di bawah ini ada 10 tips untuk mencapainya, dengan membaca 10 tahapan di bawah ini;Luangkan waktu setiap hari untuk merawat Pikiran, Jiwa, dan Raga.

  • Bersyukur atas segala yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa; Pikiran Positif, Jiwa yang Sehat, juga Raga yang Sehat.
  • Jangan menunda-nunda pekerjaan.
  • Pikiran adalah kombinasi antara Kenyataan dan Imajinasi. Ciptakan Pikiran Anda sendiri ke arah yang membahagiakan.
  • Utarakan isi hati Anda dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya Anda dapat menjawab dengan Pikiran Positif Anda.
  • Kasih sayang adalah dasar dari segalanya. Sayangilah diri Anda sendiri, kemudian sebarkan ke sekitar Anda.
  • Kita semua memiliki pilihan. Pilihlah apa yang terbaik untuk diri Anda sendiri, yang tidak merugikan orang lain.
  • Songsong setiap hari dengan ceria! Sapa orang disekitar Anda dengan senyuman, bercanda, tertawa, gembira.
  • Menyumbang membuat Anda menjadi pribadi yang punya Empati.
  • Putuskan segala persoalan dengan menentukan batas waktu tertentu / Deadline.

Sapto Satrio Mulyo

Ada 7 Saran untuk mencapai Jiwa yang Sehat, dengan membaca 7 tahapan di bawah ini, maka Anda sudah pada jalur menuju Jiwa yang Sehat

  • Kita harus jujur terhadap diri kita sendiri
  • Kenalilah diri Anda sendiri, dan belajar untuk menerima Segala Kekurangan dan Kelebihannya
  • Selalu Membuka Hati, dan siap untuk memperbaiki diri sendiri dari Kekurangan yang ada
  • Tetapkan tujuan dan berusaha mencapainya
  • Jadilah diri sendiri, dengan tidak membandingkan dengan orang lain
  • Berbuatlah yang terbaik, yang sesuai dengan kemampuan, dan tidak terlalu memaksakan diri sendiri
  • Yakin, hasil yang didapat adalah hasil yang terbaik yang diberikan oleh Ghusti Allah

Sapto Satrio Mulyo

Kearifan Lokal adalah, nilai-nilai yang sudah dimiliki Masyarakat Lokal Nusantara secara turun temurun, yang mempunyai fungsi, mengatur interaksi kegiatan masyarakat atau komunitas-nya, memperlakukan Alam sekitarnya, termasuk pola pergaulan yang arif dan bijaksana.

Mungkin pernah terbersit di dalam benak kita, "mengapa pada zaman Nenek Moyang kita dahulu, jarang sekali terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi Bencana Alam?" yang disebababkan oleh ulah manusianya sendiri, dan juga "mengapa jarang sekali terjadi Perselisihan Antar Warga?". Jadilah Manusia Indonesia Seutuhnya....

Jawabannya adalah; Kearifan Lokal-lah yang menyebabkan jarangnya terjadi hal-hal buruk seperti itu. Hal ini dikarenakan, Masyarakat Nusantara dengan Kearifan Lokal-nya, menjalani kehidupannya hari demi hari. Dimana dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Kearifan Lokal Bangsa Indonesia, membuat interaksi Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam tampak begitu saling menyayangi.

Nilai-nilai "Kearifan Lokal Bangsa Indonesia" digunakan oleh Nenek Moyang kita, karena mereka sadar, bahwa hidup ini saling bertergantungan antara satu dan lainnya, termasuk pada Alam sekitar. Sehingga Nenek Moyang kita pun selalu bercermin pada hubungan Kearifan Lokal.

Intinya, bagaimana Alam bisa memberikan yang terbaik bagi manusia, jika manusia yang hidupnya tergantung pada Alam tersebut, berlaku tidak baik kepada Alam itu sendiri. Oleh karenanya, agar alam tidak murka, pola interaksi yang guyub antar sesama Manusia, antar Manusia dengan Alam, harus terus dijaga berdasarkan nilai-nilai Kearifan Lokal Bangsa Sendiri.

Oleh karenanya, Nenek Moyang kita sangat memelihara Alam, termasuk yang hidup di sekitarnya, seperti; Binatang, dan Tumbuh-tumbuhan yang merupakan bagian dari Alam itu sendiri. Sehingga Nenek Moyang kita tidak pernah memburu Binatang, atau menebang Tumbuhan, hanya karena untuk kesenangan belaka. Hal inilah yang membuat Alam bersahabat dengan manusia pada zaman munculnya peradaban di Dunia ini, (Menurut Prof Santos - peneliti Atlantis yang hilang) yang diawali pada 4425 tahun sebelum Masehi oleh Nenek Moyang kita.

Memahami "Kearifan Lokal" secara fungsional, maka sudah selayaknya, sebagai Manusia, menggunakan Perasaan dan Akal Pikiran untuk hal-hal yang baik. Jadi pergunakanlah Pikiran dan Perasaan kita untuk menstimulus Jiwa dan Raga pada hal-hal yang bijak, dan bukan hanya digunakan untuk mengumbar hawa nafsu saja, dalam memperlakukan Alam sekitar termasuk seluruh penghuninya, tempat kita menumpang hidup.

Menyitir kata-kata seorang Filsuf Indonesia, "Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik - Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik. Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani"

Jadi jelas, dengan kita menjalani Kearifan Lokal dengan tulus, maka Sehat Seutuhnya ada di depan Mata kita. Jadilah Manusia Indonesia Seutuhnya....

Sapto Satrio Mulyo